Permintaan susu segar di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, meningkatnya pendapatan kelas menengah, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi susu sebagai bagian dari pola makan sehat. Namun demikian, produktivitas susu nasional masih tergolong rendah, yakni rata-rata 12,88 liter per ekor per hari. Struktur usaha yang didominasi peternakan rakyat berskala kecil dengan kepemilikan 2–3 ekor ternak turut mempengaruhi capaian tersebut. Kabupaten Sleman sebagai kontributor terbesar populasi sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi tantangan serupa, mulai dari rendahnya produksi susu (9–10 liter/ekor/hari), keterbatasan akses air, hingga belum optimalnya pemanfaatan limbah dan lahan tidur seluas 1.263,84 hektar.
Berangkat dari kondisi tersebut, Meita Puspa Dewi melakukan penelitian disertasi mengenai ekoefisiensi pemanfaatan sumber daya input pada peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola penggunaan input, mengukur tingkat efisiensinya, menganalisis daya dukung pakan (carrying capacity), serta merumuskan strategi peningkatan keberlanjutan usaha. Dalam penelitiannya, Meita dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM. selaku promotor dan Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. selaku ko-promotor.
Dalam ujian disertasinya, Meita menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah kotoran ternak masih rendah, yaitu 27,69% pada kelompok kepemilikan ≤5 ekor dan 42,35% pada kelompok >5 ekor. Penggunaan air terbesar berasal dari aktivitas memandikan ternak, dengan total penggunaan masing-masing 95,65 liter/UT/hari dan 117 liter/UT/hari, jauh di bawah standar kebutuhan 970 liter/UT/hari, yang mengindikasikan keterbatasan akses dan belum optimalnya pengelolaan sumber daya air. Ketinggian lokasi usaha juga berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi hijauan dan daya dukung pakan. Analisis pohon keputusan menunjukkan bahwa penjualan susu melalui koperasi memberikan nilai Expected Monetary Value (EMV) tertinggi, sementara pengolahan limbah menjadi biogas lebih menguntungkan dibandingkan kompos maupun pupuk tanaman.
Meita berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Disertasi Tertutup yang dilaksanakan di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (13/2). Ujian dipimpin oleh Ir. Andriyani Astuti, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., dengan tim penilai Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP., dan Prof. Ir. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt., M.Si., Ph.D. dari Universitas Tidar. Dalam ujian tersebut, Meita dinyatakan lulus dengan perbaikan.
